Sabtu, 04 Juni 2011

Hubungan pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar dengan kepatuhan ibu dalam pemberian imunisasi dasar pada bayi di Desa Sendang Rejo Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat

BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Kesehatan merupakan masalah yang penting dalam sebuah keluarga, terutama yang berhubungan dengan bayi dan anak. Mereka merupakan harta yang paling berharga sebagai titipan Tuhan Yang Maha Esa, juga dikarenakan kondisi tubuhnya yang mudah sekali terkena penyakit. Oleh karena itu, bayi dan anak merupakan prioritas pertama yang harus dijaga kesehatannya (Hariyono Suyitno, 2005 : 5).
Menurut Suririnah, (2008 : 12) Orang tua yang bijaksana akan selalu memberi prioritas utama untuk melindungi dan memberikan kesehatan yang terbaik bagi anaknya. Hal ini dapat diwujudkan dengan memberikan imunisasi sejak bayi lahir, yang akan memberikan perlindungan terhadap berbagai penyakit yang berbahaya. Banyak penyakit berbahaya yang dapat dicegah dengan pemberian imunisasi sehingga imunisasi menjadi salah satu bagian terpenting pada tahun pertama bayi anda. Memberi imunisasi bayi tepat pada waktunya adalah faktor yang sangat penting untuk menentukan keberhasilan imunisasi dan kesehatan bayi.
Setiap tahun diseluruh dunia, ratusan anak-anak dan orang dewasa meninggal karena penyakit yang sebenarnya masih dapat dicegah. Hal ini dikarenakan kurangnya informasi tentang pentingnya imunisasi. Bayi-bayi yang baru lahir, anak-anak usia muda yang bersekolah dan orang dewasa sama-sama memiliki resiko tinggi terserang penyakit-penyakit menular yang mematikan seperti: Difteri, Tetanus, Hepatitis B, Influenza, Thypus, Radang selaput otak, Radang paru-paru, dan masih banyak penyakit lainnya yang sewaktu-waktu muncul dan mematikan. Untuk itu salah satu pencegahan yang terbaik dan sangat vital agar bayi-bayi, anak-anak muda dan orang dewasa terlindungi hanya dengan melakukan imunisasi.
Menurut Aziz Alimul Hidayat, (2009 : 54) Imunisasi merupakan salah satu cara untuk memberikan kekebalan pada bayi dan anak terhadap berbagai penyakit, sehingga dengan imunisasi diharapkan bayi dan anak tetap tumbuh dalam keadaan sehat. Secara alamiah tubuh sudah memiliki pertahanan terhadap berbagai kuman yang masuk. Pertahanan tubuh tersebut meliputi pertahanan nonspesifik dan pertahanan spesifik. Mekanisme pertahanan tubuh pertama kali adalah pertahanan nonspesifik, seperti komplemen dan makrofag. Komplemen dan makrofag ini yang pertama kali akan memberikan peran ketika ada kuman yang masuk kedalam tubuh (sebelum itu ada mekanisme pertahanan fisik berupa kulit, selaput lendir, dan lain-lain). Setelah itu kuman harus menghadapi pertahanan tubuh yang kedua, yaitu pertahanan tubuh spesifik yang terdiri atas sistem pertahanan tubuh humoral dan seluler. Pertahanan tubuh humoral dilakukan oleh sel limfosit B dan hanya dapat bereaksi apabila mikroorganisme sampai di cairan tubuh. Sistem pertahanan humoral akan menghasilkan zat yang disebut imunoglobulin (IgA, IgM, IgG, IgE, IgD). Sistem pertahanan tubuh dilakukan oleh limfosit T dan bereaksi apabila virus menempel pada sel. Dalam pertahanan tubuh yang spesifik terutama sel B, selnjutnya akan menghasilkan satu sel yang disebut cell memory. Sel ini akan berguna dan sangat cepat bereaksi apabila ada kuman yang sudah pernah masuk ke dalam tubuh. Kondisi inilah yang digunakan dalam prinsip imunisasi.
Imunisasi seharusnya diketahui oleh setiap keluarga dan masyarakat mengenai imunisasi, kira-kira 3 dari 100 kelahiran anak akan meninggal karena penyakit campak, 2 dari 100 kelahiran anak akan meninggal karena batuk rejan, 1 dari 100 kelahiran anak meninggal karena penyakit tetanus. Dan dari setiap 200.000 anak, 1 akan menderita penyakit polio. Imunisasi yang dilakukan dengan memberikan vaksin tertentu akan melindungi anak terhadap penyakit tertentu. Walaupun pada saat ini fasilitas pelayanan untuk vaksinasi telah tersedia dimasyarakat, tetapi tidak semua bayi dibawa untuk mendapatkan imunisasi yang lengkap.
Menurut data WHO sekitar 194 negara maju maupun sedang berkembang tetap melakukan imunisasi rutin pada bayi dan balitanya. Negara maju dengan tingkat gizi dan lingkungan yang baik tetap melakukan imunisasi rutin pada semua bayinya, karena terbukti bermanfaat untuk bayi yang diimunisasi dan mencegah penyebaran keanak sekitarnya. Setiap tahun sekitar 85-95% bayi dinegara-negara tersebut mendapat imunisasi rutin, sedangkan sisanya belum terjangkau imunisasi karena menderita penyakit tertentu, sulitnya akses terhadap layanan imunisasi, hambatan jarak, geografis, keamanan, sosial-ekonomi dan lain-lain.
Imunisasi bukan hanya program kesehatan di Indonesia tapi juga program dunia (WHO). Tidak ada vaksin atau obat yang 100% aman dari faktor resiko, tetapi secara umum imunisasi aman diberikan, bahkan manfaat yang diberikan sangat besar dibanding dengan faktor resiko yang ada (Pintar Merawat Bayi).
Berdasarkan data yang diperoleh dari puskesmas Sambi Rejo kecamatan Binjai kabupaten Langkat tahun 2009, diperoleh data hasil cakupan imunisasi bayi dari 886 sasaran bayi secara kumulatif pada tahun 2009, diimunisasi BCG 830 (93,68%), DPT 1/HB1 870 (98,19%), DPT 3/HB3 830 (93,68%), polio 4 830 (93,68%), dan campak 870 (98,19%).
Kendala utama untuk keberhasilan imunisasi bayi dan anak itu, karena rendahnya kesadaran yang berhubungan dengan tingkat pengetahuan dan tidak adanya kebutuhan masyarakat pada imunisasi. Banyak anggapan salah tentang imunisasi yang berkembang dimasyarakat. Banyak pula orang dan kalangan praktisi tertentu kawatir terhadap resiko dari beberapa vaksin. Masalah pengertian, pemahaman, kepatuhan ibu dalam program program imunisasi bayinya tidak akan menjadi halangan yang besar jika pendidikan dan pengetahuan yang memadai tentang hal itu diberikan.
Kepercayaan dan prilaku kesehatan juga hal penting, karena penggunaan sarana kesehatan oleh anak berkaitan erat dengan prilaku dan kepercayaan ibu tentang kesehatan dan mempengaruhi status imunisasi. Peran seorang ibu pada program imunisasi sangatlah penting, karena orang terdekat dengan bayi dan juga anak adalah ibu. Pilihan memang ada ditangan orang tua, tetapi bagaimanapun tugas orang tua adalah untuk melindungi anaknya.
Imunisasi bukanlah hal yang baru dalam dunia kesehatan di Indonesia, namun sampai kini banyak orang tua yang masih ragu-ragu dalam memutuskan apakah anaknya akan diimunisasi atau tidak. Banyaknya penyakit baru yang menular dan mematikan serta penyakit infeksi masih menjadi masalah di Indonesia. Selain gaya hidup yang sehat dan menjaga keberhasilan imunisasi merupakan cara untukmelindungi anak-anak dari bahaya penyakit menular. Standar pelayanan minimum kesehatan(SPMK) yang dicanangkan oleh pemerintah, bahwa tahun 2010 nanti setiap bayi yang lahir harus mendapatkan imunisasi secara merata 100% kesemua desa.
Dari uraian diatas penulis merasa tertarik untuk meneliti hubungan pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar terhadap kepatuhan pemberian imunisasi dasar pada bayi di desa Sendang Rejo kecamatan Binjai kabupaten Langkat tahun 2010.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut dirumuskan permasalahan sebagai berikut, apakah ada hubungan pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar terhadap kepatuhan pemberian imunisasi dasar di desa Sendang Rejo kecamatan Binjai kabupaten Langkat.




C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Adapun tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar terhadap kepatuhan pemberian imunisasi dasar di desa Sendang Rejo kecamatan Binjai kabupaten Langkat.
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi gambaran pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar pada bayi di Desa Sedang Rejo Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat Tahun 2010.
b. Mengidentifikasi kepatuhan ibu dalam pemberian imunisasi dasar pada bayi di Desa Sendang Rejo Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat Tahun 2010.
c. Mengidentifikasi hubungan pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar pada bayi terhadap kepatuhan pemberian imunisasi dasar di Desa Sendang Rejo Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat Tahun 2010.
D. Manfaat Penelitian
1 Bagi Praktek Keperawatan
Hasil penelitian ini bermanfaat untuk memberikan suatu intervensi dalam bidang keperawatan anak khususnya yang berhubungan dengan imunisasi.
2 Bagi Penelitian Selanjutnya
Hasil penelitian ini bermanfaat bagi penelitian berikutnya untuk menambah data dalam meeneliti hubungan pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar dan meneliti kepatuhan dalam pemberian imunisasi dasar.
3 Pendidikan Keperawatan
Penelitian ini diharapkan akan dapat menjadi tambahan informasi dan bahan pengajaran untuk mata kuliah keperawatan anak.











BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengetahuan (Knowledge)
• Definisi Pengetahuan
Maksud dari pengetahuan (knowledge) adalah sesuatu yang hadir dan terwujud dalam jiwa dan pikiran seseorang dikarenakan adanya reaksi, persentuhan, dan hubungan dengan lingkungan dan alam sekitarnya. Pengetahuan ini meliputi emosi, tradisi, keterampilan, informasi, akidah, dan pikiran-pikiran. Pengetahuan juga merupakan suatu keyakinan yang kita miliki yang hadir dalam syarat-syarat tertentu dan terwujud karena terbentuknya hubungan-hubungan khusus antara subjek (yang mengetahui) dan objek (yang diketahui) dimana hubungan ini sama sekali kita tidak ragukan. Dalam pengetahuan terdapat dua asfek yang berbeda antara lain:
a. Hal-hal Yang Diperoleh
Pengetahuan seperti ini mencakup tradisi, keterampilan, informasi, pemikiran-pemikiran, dan akidah yang diyakini oleh seseorang dan diaplikasikan dalam semua kondisi dan dimensi penting kehidupan. Misalnya pengetahuan seseorang tentang sejarah negaranya dan pengetahuannya terhadap etika dan agama dimana pengetahuan ini nantinya bisa diaplikasikan dan menjadikannya sebagai dasar pembahasan.

a. Realitas Yang Terus Berubah
Sangat mungkin pengetahuan itu diasumsikan sebagai suatu realitas yang senantiasa berubah dimana perolehan itu tidak pernah berakhir. Pada kondisi ini, seseorang mengetahui secara khusus perkara-perkara yang beragam, kemudian membandingkan perkara tersebut satu sama lain dan memberikan pandangan atasnya, dengan demikian untuk mendapatkan pengetahuan-pengetahuan baru yang lebih global.
Menurut Notoatmodjo, (2003 : 121) Pengetahuan adalah merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yakni: pengetahuan, penciuman, rasa dan raba sebagai dasar pegetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.
Pengetahuan atau kognitif merupakan dominan yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Pengetahuan yang dicakup dalam domain ini kognitif mempunyai 6 tingkat:
a. Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat sesuatu materi yang telah dipelajari sebelumnya termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu “tahu” ini adalah merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya.
b. Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang telah paham terhadap objektif atau materi harus dapat menjelaskan menyebutkan contoh menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
c. Aplikasi ( Application)
Aplikasi artikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada siuasi dan kondisi rill (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus metode, prinsip dan sebagainya dalam kontek atau yang situasi lain.
d. Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih didalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis dapat dilihat dari pengguna kata kerja dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, mengelompokkan, dan sebagainya .


e. Sintesis (Syntesis)
Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru dengan kata lain sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun formulasi yang ada.
f. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan melakukan justifikasi dan penilaian terhadap suatu materi atau objek penilaian-penilaian ini berdasarkan suatu kriteria yang telah ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang telah ada.
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara adalah angka yang menyatakan isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden kedalam pengetahuan yang ingin kita ketahui ataui kita ukur dapat disesuaikan dengan tingkat-tingkat tersebut diatas.
B. Imunisasi
a. Definisi Imunisasi
Menurut Soedjatmiko, (2008 :10) Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak ia terpajan pada antigen yang serupa tidak terjadi penyakit. Imunisasi juga merupakan upaya memberikan kekebalan aktif kepada seseorang dengan cara memberikan vaksin.
Vaksin adalah produk biologis yang berasal dari virus, atau bakteri penyakit yang telah dilemahkan/dimatikan yang digunakan untuk menangkal penyakit. Kehadiran vaksin dalam tubuh manusia akan mendorong reaksi perlawanan terhadap virus atau bakteri dari penyakit yang bersangkutan. Pada dasarnya semua orang perlu diimunisasi, terutama orang-orang yang beresiko tinggi terkena penyakit seperti: bayi, anak usia balita, anak sekolah, wanita hamil, wanita usia subur.
b. Tujuan Imunisasi
Menurut Aziz Alimul, (2009 : 54) Tujuan imunisasi adalah diharapkan anak menjadi kebal terhadap penyakit sehingga dapat menurunkan angka morbiditas serta dapat mengurangi kecacatan akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
c. Jenis-jenis Imunisasi
1. Imunisasi aktif
Imunisasi aktif merupakan pemberian zat sebagai antigen yang diharapkan akan terjadi suatu proses infeksi buatan, sehingga tubuh mengalami reaksi imunologi spesifik yang akan mengasilkan respon seluler dan humoral. Jika benar-benar terjadi infeksi maka tubuh secara cepat dapat merespons. Dalam imunisasi aktif terdapat empat macam kandungan dalam setiap vaksinnya, yang dijelaskan sebagai berikut:
• Antigen merupakan bagian dari vaksin yang berfungsi sebagai zat atau mikroba guna terjadinya semacam infeksi buatan (berupa polisakarida, toksoid, virus yang dilemahkan, atau bakteri yang dimatikan).
• Pelarut dapat berupa air steril atau berupa cairan kultur jaringan.
• Preservatif, stabiliser, dan antibiotik yang berguna untuk mencegah tumbuhnya nikroba sekaligus untuk stabilisasi antigen.
• Adjuvans yang terdiri atas garam aluminium yang berfungsi untuk meningkatkan imunogenitas antigen.
2. Imunisasi pasif
Imunisasi pasif merupakan pemberian zat (immunoglobulin), yaitu suatu zat yang dihasilkan melalui suatu proses infeksi yang dapat berasal dari plasma manusia atau binatang yang digunakan untuk mengatasi mikroba yang diduga sudah masuk dalam tubuh yang terinfeksi.
d. Imunisasi Yang Diberikan
• Hepatitis B untuk melindungi bayi dengan memberi kekebalan bayi dengan memberi kekebalan bayi dengan memberi kekebalan terhadap penyakit hepatitis B yaitu penyakit infeksi lever yang dapat menyebabkan kanker dan kematian.
• BCG untuk penyakit TBC.
• DPT untuk mencegah penyakit-penyakit pertusis dan tetanus.
• Polio untuk mencegah paenyakit poliomilitis.
• Campak untuk mencegah penyakit campak.
e. Jadwal Imunisasi Pada Bayi Dan Anak
• Hepatitis B diberikan dalam waktu 12 jam setelah bayi lahir, dilanjutkan pada umur 1 bulan dan 3-6 bulan. Interval dosis minimal 4 minggu.
• Polio diberikan saat kunjungan pertama bayi kedokter. Bayi yang lahir diRB (untuk menghindari transmisi virus vaksin kepada bayi lain).
• BCG diberikan sejak lahir, apabila bayi berumur > 2 bulan harus dilakukan uji tuberkulin terlebih dahulu. BCG diberikan apabila uji tuberkulin negatif.
• DPT diberikan pada umur > 6 minggu, DPT atau secara kombinasi dengan Hepatitis B. Ulangan DPT pada umur 18 bulan dan 5 tahun.
• Campak-1 diberikan pada umur 9 bulan dan campak-2 diberikan pada SD kelas 1, usia 6 tahun.
 Imunisasi Hepatitis B
Menurut Aziz Alimul, (2009 : 56) Imunisasi Hepatitis B merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit hepatitis. Frekuensi pemberian imunisasi hepatitis sebanyak 3 kali dan penguatnya dapat diberikan pada usia 6 tahun. Imunisasi ini diberikan melalui intramuskular. Angka kejadian hepatitis B pada anak balita juga sangat tinggi dalam mempengaruhi angka kesakitan dan kematian balita.
Menurut Mardi Elfian & Effa Yuliastry, (2009 : 143) Jenis imunisasi ini diberikan pada bayi secara bertahap yaitu tahap pertama ketika bayi sekurang-kurangnya 12 jam setelah lahir, tetapi dengan syarat kondisi bayi stabil tidak ada kelainan paru-paru dan jantung, berusia satu bulan, dan ketika bayi berusia enam bulan. Tahap kedua diberikan pada bayi berusia satu bulan. Tahap ketiga diberikan ketika bayi berusia liima bulan. Imunisasi ini diberikan kepada bayi untuk mencegah masuknya virus hepatitis B. Virus hepatitis B dapat menyebabkan penyakit hepatitis B yang berdampak pada pengerutan hati, bahkan bisa lebih buruk yaitu kanker hati. Penyakit ini tidak memiliki ciri-ciri khusus, kondisi bayi dalam keadaan baik, makan lahap, berat badanpun normal. Penyakit ini baru dapat diketahui apabila ibu membawa bayi untuk di-screening untuk mengetahui apakah sikecil membawa virus atau tidak.
Imunisasi hepatitis B dibrikan dibagian paha bayi lewat anterolateral yaitu otot-otot bagian depan luar. Penyuntikan vaksin tidak dianjurkan didaerah bokong karena berpengaruh pada efektivitas vaksin. Biasanya, tanda keberhasilan imunisasi terlihat apabila dilakukan pemeriksaan darah dengan pengecekan hepatitis B ketika bayi berusia 12 bulan. Indikasi dinyatakan berhasil atau tidaknya imunisasi adalah kadar hepatitis B. Apabila kadar hepatitis B di atas 500 maka daya tahan tubuh untuk tidak terjangkit hepatitis B berlangsung selama 5 tahun. Apabila kadar hepatitis B di atas 200, daya tahan tubuhnya 3 tahun. Apabila kadarnya hanya 100, berarti dalam setahun efek imunisasi akan hilang apabila kadar menunjukkan angka nol, berarti si bayi harus disuntik ulang sebanyak tiga kali.
a. Penularan
Menurut soedjatmiko, (2008 : 136) Semua orang mengandung HBs Ag positif potensial infeksius. Transmisi terjadi melalui kontak perkutaneus atau perenteral, dan melalui hubungan seksual. Transmisi antar anak merupakan modus yang sering terjadi dinegara endemis VHB. VHB dapat melekat dan bertahan dipermuakaan suatu benda selama kurang lebih 1 minggu tanpa kehilangan daya tular. Darah bersifat infeksius beberapa minggu sebelum awitan, menetap selama fase akut berlangsung. Daya tular pasien VHB kronis bervariasi, sangat infeksius bila HbeAg positif.
b. Efek samping
Menurut Mardi Elfian & Effa Yuliastry, (2009 :144) Efek samping dari pemberian imunisasi hepatitis B jarang sekali ditemui. Namun, jika bayi memiliki kondisi badan yang lemah, bisa jadi pada daerah bebas suntikan akan mengalami nyeri, disusul dengan demam ringan serta terjadinya pembengkakan, tetapi kondisi ini akan menghilang dalam jangka waktu dua hari. Setelah imunisasi, maka daya tahan tubuh agar tidak terjangkit hepatitis B berlangsung selama 8 tahun. Oleh karenanya, sebaiknya imunisasi hepatitis B diulang setelah 8 tahun kemudian.
c. Pencegahan
• Jika mempunyai riwayat medis mengidap hepatitis B, sebaiknya anda melakukan vaksinasi hepatitis B ketika masa kehamilan.
• Berikan bayi vaksinasi pasif berupa serum agar tubuh bayi sudah memiliki kekebalan terhadap infeksi hepatitis B sejak lahir.
• Lakukan imunisasi secara teratur, imunisasi hepatitis B dapat diberikan secara aman pada bayi sesudah kelahiran dan ketika masa pertumbuhan.
 Imunisasi BCG
Menurut Aziz Alimul, (2009 : 55) Imunisasi BCG (Bacillus Calmette Guerin), merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit TBC yang berat sebab terjadinya penyakit TBC yang primer atau yang ringan dapat terjadi walaupun sudah dilakukan imunisasi BCG. TBC yang berat contohnya adalah TBC pada selaput otak, TBC miller pada seluruh lapangan paru, atau TBC tulang. Vakssin BCG merupakan vaksin yang mengandung kuman TBC yang telah dilemahkan. Vaksin BCG diberkan melalui intradermal.
Menurut Mardi Elfian & Effa Yuliastry, (2009 : 141) Imunisasi BCG diberikan pada bayi ketika bayi berumur kurang dari 2 bulan. Sebaiknya sebelum dilakukan imunisasi BCG pada bayi, perlu dilakukan tes martoux. Tes ini berfungsi untuk mengetahui apakah bayi sudah membawa penyakit TBC sejak lahir atau tidak, tetapi langkah ini jarang sekali dilakukan oleh para ibu karena untuk melakukan satu kali tes martoux memerlukan biaya yang cukup mahal. Sebenarnya ibu dapat mendeteksi bayi terjangkit penyakit TB dengan beberapa cara. Indikasi yang pertama adalah berat badan bayi sulit bertambah, bayi sulit makan, mudah sakit, batuk berulang, mengalami demam, berkeringat dimalam hari, dan juga diare persisten.
Untuk megetahui lebih jelas, lakukan rontgen pada bayi untuk mengetahui apakah terdapat flek pada paru-paru bayi. Tes martoux yang berfungsi untuk mengetahui peningkatan kadar sel darah putih, dan tes darah untuk mengetahui ada tidaknya gangguan laju endapan darah, diotambah lagi biasanya dokter melakukan wawancara tentang ada tidaknya kontak antara pasien dengan penderita TB. Penyakit TB (Tuberkolusis) sendiri merupakan penyakit yang berkaitan dengan virus Tubercle bacii yang hidup didarah manusia. Oleh karena itu, tubuh bayi dimasukkan jenis basil yang tidak berbahaya, yaitu vaksinasi BCG (Bacillus Celmette Guerin). Lokasi penyuntikan biasanya terletak dibagian lengan kanan atas. Pasca imunisasi BCG, jarang sekali ditemukan efek samping, biasanya sudah dapat hilang dalam waktu 2-3 hari. Para ibu kerap khawatir jika pasca-penyuntikan bayi akan mengalami pembengkakan diketiak atau dileher bagian bawah. Hal ini merupakan proses yang sangat wajar sehingga dirasa belum terlalu perlu untuk membawa bayi kedokter.
Imunisasi ini dianggap berhasil apabila muncul bisul kecil dan bernanah pada bagian bekas suntikan. Ibu tidak perlu khawatir karena bisul dapat sembuh sendiri dan meninggalkan bekas parut. Jika tanda-tanda berupa bisul tidak ditemukan pada bayi, ibu tidak perlu khawatir karena antibodi tetap terbentuk, tetapi dalam kadar yang cukup rendah. Imunisasi BCG yang sudah dilakukan tidak perlu diulang karena bayi akan membentuk antibodinya sendiri secara alamiah.
a. Penularan
Penularan penyakit TBC terjadi melalui udara karena terhirupnya percikan udara yang mengandung kuman TBC. Kuman ini paling sering menyerang paru-paru dan dapat menyerang berbagai organ tubuh lain, seperti kelenjar getah bening, tulang, sendi, ginjal, hati, atau selaput otak. Imunisasi BCG cukup diberikan satu kali saja. Daerah tempat suntikan akan menjadi bengkak dan luka bernanah, yang akan sembuh dengan sendirinya dalam beberapa minggu dan timbul jaringan parut pada tempat bekas suntikan. Pemberian vaksin BCG tidak memberi kekebalan 100% terhadap penyakit ini, tetapi bila sampai anak terinfeksi kuman ini, penyakitnya akan lebih ringan.

b. Efek samping
Efek samping pemberian imunisasi BCG adalah terjadinya ulkus pada daerah suntikan, limfadenitis regionl, dan reaksi panas. Imunisasi BCG penting bagi anak balita dalam pencegahan TBC millier, otak, dan tulang kaerna masih tingginya kejadian TBC pada anak. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Muclastriningsih (2005) terhadap sejumlah pasien tuberkolusis paru BTA (+) rawat jalan selama tahun 2000-2002, pada tahun 2001 ditemukan sebanyak 520 anak dibawah 1 tahun menderita tuberkolusis BTA (+) dan tahun 2002 turun menjadi 117 anak. Keadaan ini menimbulkan keprihatinan karena pasien balita akan mengalami hambatan pertumbuhan yang tentu akan mempengaruhi perkembangannya. Balita biasanya belum jauh sehingga dapat diprediksi ada kasus tuberkolusis disekitarnya.
 Imunisasi DPT
Menurut Mardi Elfian & Effa Yuliastry, (2009 : 145) Imunisasi DPT berfungsi untuk memberikan imunitas difteri, pertusis, dan tetanus. Difteri merupakan penyakit radang tenggorokan yang sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian bayi hanya dalam beberapa hari saja. Pertusis merupakan penyakit radang pernapasan (paru) yang biasa disebut batuk 100 hari atau batuk rejan. Penyakit ini memang menyerang pasien cukup lama, biasanya batuk rejan mencapai tiga bulan atau lebih. Ciri-ciri dari penyakit ini adalah batuk yang bertahap, panjang, dan lama, diakhiri dengan muntah, mata terlihat bengkak, bahkan penderita dapat meninggal karena sulit bernapas. Tetanus merupakan penyakit kejang otot seluruh tubuh dengan mulut tertutup tidak bisa terbuka. Imunisasi DPT diberikan dengan cara vaksin yang diteteskan kedalam mulut atau disuntikkan ketubuh bayi.
a. Penularan
Penularan umumnya melalui udara (batuk/ bersin) selain itu dapat melalui benda atau makanan yang terkontaminasi. Pencegahan paling efektif adalah dengan imunisasi bersamaan difteri, pertusis, dan tetanus sebanyak 3 kali sejak bayi berumur 2 bulan dengan selang penyuntikan 1-2 bulan. Pemberian imunisasi ini akan memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit difteri, pertusis, dan tetanus.
b. Efek samping
Efek samping vaksin DPT adalah demam tubuh dalam 24-48 jam setelah vaksinasi, yang biasanya dapat diatasi dengan obat penurun panas (paracetamol). Bila setelah imunisasi DPT terjadi demam 40 C, demam lebih dari 3 hari, atau reaksi kejang, segera beritahukan dokter. Saat ini terdapat vaksin DaPT yaitu vaksin DPT yang dibuat dengan menghilangkan sel pertusis yang memberi efek demam, sehingga efek samping demam sangat jarang, tapi tentu saja harganya mahal dibanding dengan DPT biasa, selain itu efek samping yang mungkin timbul nyeri dan bengkak pada permukaan kulit.
 Imunisasi Polio
Imunisasi polio merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit poliomyelitis yang dapat menyebabkan kelumpuhan pada anak. Kandungan vaksin ini adalah virus yang dilemahkan. Imunisasi polio diberikan melalui oral. Di Indonesia, program eradikasi polio dilaksanakan sesuai kesepakatan pada WHA ke-41 (1988) yang sebenarnya mengharapkan eradikasi polio didunia sebelum tahun 2000. Ada empat strategi untuk pencapaian tujuan tersebut, yaitu imunisasi rutin (oral polio virus) dengan cakupan tinggi, imunisasi tambahan, surveilans AFP dan investigasi laboratorium, serta mop-up untuk memutus rantai penularan terakhir. Pemberian vaksin polio dapat dilakukan bersamaan dengan BCG, vaksin hepatitis B, dan DPT. Imunisasi ulangan diberikan bersamaan dengan imnisasi ulang DPT.
Imunisasi polio memiliki fungsi yang luar biasa untuk bayi. Imunisasi polio akan memberikan kekebalan terhadap serangan virus polio. Polio merupakan penyakit radang yang menyerang saraf dan bisa menyebabkan lumpuh pada kedua kaki. Imunisasi polio diberikan pada bayi melalui tiga tahap yaitu tahap pertama ketika bayi berumur 2 bulan, selanjutnya ketika bayi berumur 4 bulan, dan ketika bayi berumur 6 bulan. Pemberian imunisasi polio ada dua macam yaitu polio vaccine dan inactived polio. Polio vaccine merupakan imunisasi yang dilakukan dengan cara meneteskan vaksin kedalam mulut, sedangkan inactived polio vaccine yaitu pemberian vaksin dengan cara disuntik. Dampak pada bayi yang tidak mendapatkan imunisasi polio adalah terjadinya kerusakan pada sumsum tulang belakang dan batang otak yang berakibat pada kelumpuhan. Gambaran yang terjadi akibat polio adalah lumpuh layu (lumpuh dan lemah).
Menurut A. Samik Wahab, (2002) Vaksin poliomielitis oral mengandung tiga tipe virus polio hidup yang dilemahkan (virus polio 1, 2 dan 3). Karena harganya yang murah, mudah pemberianya,dapat menginduksi imunitas intensinal dan berpotensi menginfeksi secara sekunder kontak rumah tangga dan komunitas, WHO merekomendasikan pemberian vaksin polio oral trivalen sebagai vaksin pilihan untuk pemberantasan poliomielitis.
Hasil penelitian di negara-negara maju menunjukkan bahwa angka serokonversi sesudah tiga dosis vaksin polio oral yang cukup tinggi (> 90%) untuk ke tiga tipe virus. Namun, angka serokonversi di negara-negara berkembang lebih rendah, yaitu 73% (36%-99%) untuk tipe 1, 90% (71%-100%) untuk tipe 2, dan 70% (40%-99%) untuk tipe 3, efektivitas tiga dosis vaksin polio oral untuk mencegah polio paralitik di negara berkembang berkisar antara 72%-98% bila rantai pendingin (cold chain) di pertahankan dengan baik (EPI WHO, 1993). Selain masalah rantai pendigin, faktor-faktor yang mengurangi respons imun di negara berkembang adalah interferensi dari enterovirus yang lain dan interferensi di antara ketiga vaksin virus. Di banyak negara berkembang, imunisasi rutin saja tidak cukup untuk menghentikan penyebaran virus polio ganas karena rendahnya angka serokonversi sehingga dianjurkan pemberian imunisasi tambahan. IDAI 1999 menganjurkan satu dosis imunisasi polio pada saat bayi lahir, di samping pemberian imunisasi dasar tiga dosis.
a. Efek samping
Imunisasi polio juga tidak menimbulkan efek samping. Pada dasarnya memang tidak ada vaksin yang benar-benar 100% aman, tetapi imunisasi polio ini hanya mempunyai sedikit saja efek samping sehingga dapat dikatakan tidak mempunyai efek samping jika ada efek samping yang mungkin terjadi sangat minimal dapat berupa kejang-kejang.
 Imunisasi campak
Menurut Aziz Alimul, (2009 : 57) Imunisasi campak merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit campak pada anak karena termasuk penyakit menular. Kandungan vaksin ini adalah virus yang dilemahkan. Imunisasi campak diberikan melalui subkutan. Angka kejadian campak juga sangat tinggi dalam mempengaruhi anggka kesakitan dan kematian anak. Hasil penelitian Muchlastrinigsih (2008) menunjukan bahwa pasien campak yang di rawat jalan paling banyak dari golongan usia 5-14 tahun (30,6%).
Menurut A. Samik Wahap, (2002 : 60) Campak merupakan penyakit yang sangat menular yang dapat disebabkan oleh sebuah virus yang disebut virus campak. Vaksin campak merupakan preparat virus hidup yang dilemahkan dan berasal dari berbagai strain virus yang isolasi pada tahun 1950. Vaksin campak harus didinginkan pada suhu sesuai (2-8°C) karena sinar matahari atau panas dapat membunuh virus vaksin campak. Bila virus vaksin mati sebelum disuntikkan, vaksin tersebut akan mampu menginduksi respon imun. Banyak kegagalan vaksinasi akibat kesalahan penyimpanan. Dinegara yang sedang berkembang angka serokonversi biasanya lebih dari 85%. Dari data insidens campak dan angka serokonversi terhadap vaksin campak berdasarkan umur dinegara yang sedang berkembang, pemberian imunisasi pada umur 8-9 bulan diprediksi dapat menimbulkan serokonversi pada sekurang-kurangnya 85% bayi dan dapat mencegah sebagian besar kasus dan kematian. WHO merekomendasikan pemberian imunisasi pada umur 9 bulan untuk program imunisasi rutin dinegara berkembang.
a. Gejala
Gejala dari penyakit campak adalah:
• Demam
• Pilek
• Bercak-bercak pada permukaan kulit 3-5 hari setelah anak menderita demam


b. Penularan
Penularan melalui udara ataupun kontak langsung dengan penderita. Tingkat penularan campak tinggi tanpa program imunisasi attack rate 93,5 per 1000 kelahiran hidup. Kekebalan meternal yang dibawa anak berangsur-angsur kurang dan menghilang sampai berumur 9 bulan walaupun demikian ditemukan kasus morbili pada bayi umur 4,5 bulan.
c. Komplikasi
Komplikasi dari penyakit campak ini adalah:
• Radang paru
• Radang pada syaraf
• Radang pada sandi dan radang pada otak yang dapat menyebabkan kerusakan otak yang permanent.
d. Efek samping
Efek samping campak diantaranya adalah demam tinggi (suhu lebih dari 39,4° c) yang terjadi 8-10 hari setelah vaksinasi berlangsung selama sekitar 24-28 jam (insidens sekitar 2%) dan selama sekitar 1-2 hari (insidens sekitar 2%). Efek samping yang lebih berat seperti ensefasilitas sangat jarang terjadi kuarang dari 1 setiap 1-3 juta dosis yang diberikan .
Penyakit campak sangat berbahaya bagi penderita gangguan kekebalan. Vaksin campak dapat mengakibatkan preumonia pada penderita leukemia sehingga vaksin campak ini tidak boleh diberikan pada penderita gangguan sistim imun berat. Meskipun demikian, vaksin campak terbukti aman untuk penderita HIV (Human Immunodeficiency Virus) positif dan AIDS (Asquired Immunodefenciency syndrome). Karena imunolobin atau prodak darah yang lain mungkin mengandung antibodi terhadap yang dapat mengganggu timbulnya respon imun.
e. Pencegahan
Pencegahan penyakit campak adalah dengan cara menjaga kesehatan kita dengan makanan yang sehat, berolahraga yang teratur dan istirahat yang cukup dan yang paling efektif pencegahannya adalah dengan melakukan imunisasi. Pemberian imunisasi akan memberi kekebalan aktif dan bertujuan untuk melindungi terhadap penyakit campak hanya dengan sekali suntikan dan diberikan pada usia anak 9 bulan atau lebih.
Dengan pemberian satu dosis vaksin campak, insidens campak dapat diturunkan lebih dari 90%. Namun karena campak merupakan penyakit yang sangat menular masih dapat terjadi pada usia sekolah meskipun 85,90% anak sudah mempunyai imunitas. Oleh karena itu, program eradikasi campak diperlukan pemberian ulangan vaksinasi pada usia sekitar 5-7 tahun.
Tujuan adalah untuk menekan jumlah individu yang rentan terjangkit campak sampai dibawah 1%.














BAB III
METODE PENELITIAN

A. Kerangka Konsep
Kerangka konseptual penelitian ini disusun berdasarkan konsep pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar terhadap kepatuhan ibu dalam pemberian imuisasi dasar. Dari uraian tersebut, maka dapat digambarkan kerangka konsep penelitian sebagai berikut:

(variabel independent) (variabel defendent)



B. Definisi konseptual
a. Pengetahuan
Pengetahuan adalah informasi, maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang atau gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan akal (Meliono, 2007).


b. Ibu
Ibu adalah sosok yang penuh kasih sayang, kuat, mandiri dan pemberani yang merupakan guru dan panutan bagi kita serta yang melahirkan kita (Hikmah Islam, 2007).
c. Kepatuhan
Kepatuhan berasal dari kata dasar patuh, yang berarti disiplin dan taat atau perilaku seseorang yang mengikuti anjuran sesuai dengan ketentuan yang diberikan(Kaplan, 1997).
d. Pemberian Imunisasi Pada Dasar
Pemberian vaksin untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada bayi yang dapat membantu dan melindungi tubuh untuk menghasilkan antibodi.
C. Definisi Operasional.
No Variabel Definisi Skala Hasil ukur
1 Pengetahuan (variabel indefendent)





Pemahamam responden dalam menjawab pertanyaan Imunisisi berdasarkan berapa responden menjewab pertanyaan

Interval

Kurang = 0-6
Sedang = 7-13
Baik = 14-20
2 Kepatuhan (variabel defendent) Mengikuti segala peraturan yang telah ditetapkan dan tidak melanggarnya
Interval Tidak patuh = 0-5
Patuh = 6-10

D. Hipotesa Penelitian
Hipotesa adalah merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian(Sugiyono, 2004)
Hipotesa pada penelitian ini adalah Ha, hipotesa alternatif yaitu ada hubungan antara pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar terhadap kepatuhan ibu dalam pemberian imunisasi dasar pada bayi di Desa Sendang Rejo Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat tahun 2010, sedangkan jika Ho tidak ada hubungan antara pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar terhadap kepatuhan ibu dalam pemberian imunisasi dasar pada bayi di Desa Sendang Rejo Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat tahun 2010.
















BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Desain penelitian yang akan digunakan dalam penelitian adalah desain asosiatif yang bertujuan untuk menjelaskan dan mengetahui ada hubungan pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar dengan kepatuhan ibu dalam pemberian imunisasi dasar.
B. Populasi dan sampel
a. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki bayi di Desa Sendang Rejo Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat tahun 2010 yang berjumlah 47 orang.
b. Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh jumlah populasi ( Total Sampling).
Kriteria sampel:
• Ibu yang mempunyai bayi didesa tersebut
• dapat membaca
• dapat memahami pertanyaan yang diberikan
• bersedia menjadi responden
C. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Desa Sendang Rejo Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat.
D. Pertimbangan Etik
Penelitian ini dilakukan setelah mendapat persetujuan proposal dari Instansi pendidikan. Dalam penelitian ini responden nantinya akan diberikan informasi tentang manfaat dan tujuan dari penelitian yang dilakukan. Kemudian diberikan lembar persetujuan yang akan ditanda tangani sebagai bukti kesediaan menjadi responden. Dalam hal ini responden berhak untuk menolak terlibat dalam penelitian ini. Peneliti akan menjaga kerahasiaan identitas responden dengan memakai inisial nama, serta tidak mencampuri hal-hal yang bersifat pribadi dengan responden.
E. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang terbagi menjadi 2 (dua) bagian yaitu :
Pertama adalah kuesiner data demografi yang bertujuan untuk mengidentifikasi karateristik responden yang meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan terakhir, pekerjaan, dan alamat.
Kedua adalah kuesioner untuk mengidentifikasi pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar. Penelitian ini menggunakan skala Guttman yang bersifat tegas dan konsisten dengan memberikan jawaban yang tegas seperti jawaban dari pertanyaan-pertanyaan: ya dan tidak, positif dan negatif, setuju dan tidak setuju, benar dan salah yang terdiri dari 30 item. Responden akan membuat tanda (√) check list pada lembar pertanyaan dengan interpretasi penilaian, apabila skor benar nilainya 1 dan jika salah nilainya 0.
F. Pengumpulan Data
Prosedur pengumpulan data pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Permohonan izin pelaksanaan penelitian yang didapatkan dari institusi pendidikan (PSIK Delihusada Delitua).
2. Mengajukan surat permohonan izin penelitian ke lokasi penelitian (Desa Sendang Rejo Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat).
3. Peneliti memberikan penjelasan kepada calon responden tentang tujuan penelitian, manfaat, dan prosedur pengumpulan data.
4. Penelitian meminta calon responden menandatangani informed consent sebagai bentuk persetujuan bersedia menjadi responden.
5. Peneliti memberikan kuesioner kepada responden, kemudian peneliti melakukan pengkajian dan setelah itu peneliti menentukan perencanaan bersama-sama dengan responden.
6. Peneliti melakukan penatalaksanaan yaitu mengadakan sesi pengajaran dengan responden tentang : Imunisasi dasar dengan kepatuhan dalam pemberian imunisasi dasar.
7. Peneliti melakukan evaluasi.
8. Peneliti mengolah/menganalisa data yang telah terkumpul.
G. Analisa Data.
Setelah semua data terkumpul maka data dianalisa dengan beberapa teknik yaitu mengecek kelengkapan identitas responden, memastikan bahwa pertanyaan telah terisi dengan baik. Kemudian dilanjutkan dengan koding dengan pemberian angka tertentu pada lembar kuesioner untuk memudahkan analisa data, selanjutnya untuk menguji signifikansi atau untuk mengetahui tingkat hubungan pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar pada bayi (variabel x) dan kepatuhan ibu dalam pemberian imunisasi (variabel y) digunakan rumus Pearson Product Moment.

Keterangan:
R xy : Koofisien Korelasi ( Terhitung)
∑ xy : Jumlah skor






Kuesioner Penelitian
Hubungan pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar dengan kepatuhan ibu dalam pemberian imunisasi dasar pada bayi di Desa Sendang Rejo Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat
Tanggal/bulan/tahun:..../............/2010
I. Petunjuk pengisian
1. Mohon perhatikan pertanyaan ini dengan seksama.
2. jawablah pertanyaan dengan memberikan tanda chek list (√) pada salah satu jawaban yang tersedia.
3. Mohon dijawab sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
4. Jawaban ibu kami jamin kerahasiaannya.
5. Terima kasih atas kesediaan ibu menjawab pertanyaan-pertanyaan dibawah ini.

II. Identitas Responden
Tanggal :
Nama :
Umur :
Pendidikan terakhir : SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi
Pekerjaan :
Alamat :
Nama Bayi :
Umur :
Jenis kelamin :

Kuisioner Pengetahuan
No Pernyataan Ya Tidak
1. Imunisasi merupakan upaya untuk memberikan kekebalan pada anak.
2. Virus yang dapat menyebabkan penyakit campak adalah virus HIV.
3. Tujuan dari imunisasi yaitu memberi kekebalan pada anak dan mengurangi kecacatan pada anak.
4. BCG merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah polio.
5. Penyakit yang sangat menular yang dapat disebabkan oleh viruz campak merupakan pengertian dari campak.
6. Polio merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah penyakit tetanus.
7. Hepatitis B merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah penyakit hepatitis.
8. Difteri merupakan penyakit yang menyerang mata.
9. Di indonesia ada 5 jenis imunisasi dasar.
10. Imunisasi Hepatitis B digunakan untuk mencegah penyakit mata.
11. Hepatitis B diberikan pada saat bayi berumur 1 bulan dan 3-6 bulan.
12. BCG diberikan pada bayi berumur 1 tahun.
13. DPT diberikan pada bayi berumur > 6 minggu.
14. Hepatitis B diberikan pada bayi yang berumur 2 tahun.
15. Gejala dari campak adalah demam, pilek, bercak-bercak pada permukaan kulit.
16. Tindakan yang ibu berikan jika bekas suntikan pada bayi terdapat bengkak dan kemerah-merahan adalah memberi salep.
17. Imunisasi polio diberikan untuk mencegah poliomilitis.
18. Menurut ibu, campak akan menular melalui tatap muka.
19. Imunisasi campak diberikan pada anak berusia 9 bulan.
20. Efek samping dari imunisasi DPT adalah pusing, mual dan muntah.





Kuisioner Kepatuhan
No Pernyataan Ya Tidak
1. Ibu memberi anak imunisasi BCG segera setelah lahir.
2. Ketika bayi ibu berusia 1 bulan, ibu membawa bayi ibu imunisasi Hepatitis B.
3. Ibu memberi bayi ibu imunisasi DPT pada saat berumur > 6 minggu.
4. Ibu membawa anak ibu untuk ulangan imunisasi DPT pada umur 18 bulan dan 5 tahun.
5. Ibu memberikan imunisasi camkpak-1 pada bayi ibu saat berumur 9 bulan.
Ibu memberi bayi imunisasi Polio ketika bayi ibu berumur 2 bulan.
7. Ibu membawa anak imunisasi Polio selanjutnya ketika bayi ibu berumur 4 bulan dan 6 bulan.
8. Ketika bayi ibu berusia 3-6 bulan ibu membawa bayi ibu untuk lanjutan imunisasi Hepatitis B.
9. Ketika anak ibu berusia kelas 1 SD atau 6 tahun ibu membawa anak ibu untuk diberikan imunisasi campak-2.
10. Apabila bayi ibu > 2 bulan dan diketahui bayi ibu sudah membawa penyakit TBC sejak lahir maka ibu membawa bayi ibu untuk dilakukan tes martoux.






DAFTAR PUSTAKA

Aziz Alimul Hidayat, 2009. Ilmu Kesehatan Anak, Salemba Medika : Jakarta.
A , Samik Wahab, 2002. Sistem Imun, Imunisasi & Penyakit Imun, Widya Medika : Jakarta.
http//www.devinfo.info/immunization Imunisasi penting untuk mencegah penyakit berbahaya. Diposting oleh Suprafto
Hikmah Islam, 2007. http//www.bkkbn.go.id/webs/Detail Berita.
Kaplan, 1997. http//www.Dian Rakyat.co.id
Mardi Elfian & Effa Yuliastry, 2009. Panduan Lengkap Merawat Bayi. Plus + : jakarta.
Meliono dkk, 2007. http//www.MPKT Modul 1.Lembaga Penerbitan FEUI: Jakarta.
Noto Atmodjo, 2003. Kesehatan Masyarakat. Rineka Cipta : Jakarta.
Soejatmiko & Hariyono Suyitno, 2008. Pedoman Imunisasi di Indonesia. Edisi Ketiga IDAI : Jakarta.
Suririnah, 2008. Pintar Merawat Bayi 0-12 bulan, Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.
Sugiyono, 2004. Metode Penelitian Bisnis. CV Alfabeta: Bandung.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar